Fore Coffee (IDX: FORE) adalah jaringan kopi "premium affordable" yang didirikan tahun 2018 oleh Robin Boe, Willson Cuaca, dan Vico Lomar (CEO). Dari booth kecil di Senopati, Jakarta, kini mereka punya 346 outlet di 51 kota. IPO di April 2025 mengumpulkan Rp 353 miliar untuk ekspansi agresif — 140 outlet baru + 30 Fore Donut di pipeline.
Kondisi Keuangan: Dari Rugi ke Profit dalam 3 Tahun
| Tahun | Revenue | Net Income | Margin | Outlet | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|
| FY21 | Rp ~120B | -Rp 48B | -40% | ~80 | Masih rugi besar — fase ekspansi awal |
| FY22 | Rp ~280B | -Rp 22B | -7.9% | ~120 | Revenue 2x tapi masih rugi |
| FY23 | Rp 482B | +Rp 1.2B | +0.2% | 173 | Breakeven — pertama kali profit |
| FY24 | Rp 1,039B | +Rp 58.2B | +5.6% | 231 | Revenue 2x, profit melonjak |
| FY25 | Rp 1,497B | +Rp 90.1B | +6.0% | 316 | +44% YoY, IPO April 2025 |
📊 Sumber Data Keuangan
Semua angka dari laporan keuangan publik FORE di IDX. FY21-FY22 adalah estimasi berdasarkan data pre-IPO prospektus. FY23-FY25 adalah angka audited. Gross margin ~62%, EBITDA margin ~20%, net margin ~6%.
Skala Operasi
Fore Coffee tumbuh dari 173 outlet (FY23) ke 346 outlet (Q1 2026) — doubling dalam 2 tahun. Ekspansi ini didanai oleh IPO April 2025 yang mengumpulkan Rp 353 miliar. Target: 140 outlet baru + 30 Fore Donut di 2025-2026. Pertanyaannya: apakah outlet baru ini profitable?
Model Bisnis: Premium Affordable
Fore Coffee menempatkan diri di segmen "premium affordable" — kualitas specialty coffee (Arabica dari Gayo, Toraja, Kintamani) dengan harga terjangkau (Rp 21K-42K per cup). Ini sweet spot antara kopi kaki lima (Rp 5K-15K) dan Starbucks (Rp 45K-75K). Model ini memungkinkan volume tinggi dengan margin yang cukup — gross margin ~62% menunjukkan pricing power yang kuat.
Berbeda dengan Starbucks yang mengandalkan dine-in experience (third place concept), Fore Coffee didesain digital-first. Mayoritas outlet berformat small-footprint — optimized untuk pick-up dan delivery, bukan duduk berlama-lama. Ini menekan biaya sewa secara signifikan.
6 Channel Penjualan
| Channel | Deskripsi | Margin Profile |
|---|---|---|
| Dine-in | Makan di tempat — outlet yang punya seating area | Revenue tinggi per visit, cost sewa lebih besar |
| Pick-up (App) | Order via Fore Coffee app, ambil di outlet | Margin terbaik — no commission, no delivery cost |
| GrabFood | Delivery via Grab ecosystem | Reach luas, komisi 20-30% ke platform |
| GoFood | Delivery via Gojek ecosystem | Reach luas, komisi 20-30% ke platform |
| ShopeeFood | Delivery via Shopee ecosystem | Growing channel, komisi serupa |
| Walk-in Takeaway | Beli langsung tanpa app, bawa pulang | Margin baik — no commission, tapi volume kecil |
Landscape Kompetitor
| Brand | Outlet | Range Harga | Positioning |
|---|---|---|---|
| Kopi Kenangan | 1,100+ | Rp 18K-35K | Market leader grab-and-go, unicorn status |
| Janji Jiwa | 900+ | Rp 15K-30K | Value segment, franchise model agresif |
| Tomoro Coffee | 600+ | Rp 19K-36K | Tech-driven, ekspansi cepat 2023-2024 |
| Starbucks | 500+ | Rp 45K-75K | Premium experience, third place concept |
| Fore Coffee | 346 | Rp 21K-42K | Premium affordable, digital-first, IPO company |
Fore Coffee ada di posisi #5 dari segi jumlah outlet, tapi #1 dari segi profitabilitas publik — satu-satunya yang sudah IPO dan profitable. Kopi Kenangan dan Janji Jiwa masih private. Ini advantage sekaligus pressure: setiap kuartal, angka harus dilaporkan ke publik.
Masalah Utama
- Data dari 346 POS belum pernah di-audit — anomali tersebar, nggak ada yang tahu seberapa parah. Dengan 6 channel order dan ratusan outlet, data quality jadi blind spot.
- Nggak ada ranking outlet terstandarisasi — VP Ops nggak tahu outlet mana yang butuh intervensi. 346 outlet nggak bisa dimonitor satu-satu tanpa scoring system.
- Menu performance belum dianalisis — Tim Product butuh data untuk pricing strategy. 34 menu items di 7 kategori — mana yang drive revenue, mana yang dead weight?
- Board meeting butuh executive summary — Post-IPO, CEO butuh findings + rekomendasi actionable setiap kuartal. Investor menunggu bukti bahwa ekspansi on track.
💡 Konteks IPO April 2025
Fore Coffee IPO di IDX April 2025, raised Rp 353 miliar. Dana dialokasikan untuk 140 outlet baru + 30 Fore Donut. Ini artinya setiap outlet baru harus prove ROI-nya. Board dan investor publik sekarang mengawasi — data-driven decision bukan lagi nice-to-have, tapi keharusan.
⚠️ Keterbatasan Data
Dataset yang dianalisis adalah data transaksi 15 bulan (Jan 2025 – Mar 2026) dengan 16,323 raw rows. Ini data operasional — bukan laporan keuangan audited. Angka revenue di dataset (Rp 874.7M) adalah subset dari total revenue perusahaan (Rp 1.5T FY25), karena hanya mencakup sample transaksi, bukan seluruh POS data.
Namun, framework analisis yang dibangun — cleaning pipeline, outlet ranking, menu analysis, channel profitability — tetap applicable ke full dataset. Dengan akses data internal lengkap, tinggal plug in.