Store Concept Segmentation
Dari 350 outlet yang di-scrape dari API, Fore Coffee mengoperasikan 4 konsep outlet yang berbeda — masing-masing dengan footprint, target customer, dan operational model yang berbeda.
319
Store
Standard format, seating area, full menu
14
Leisure
Dine-in focused, larger footprint, premium location
10
Fore Go
Grab-and-go, small footprint, high traffic area
7
Grab & Go
Minimal footprint, delivery-focused, low rent
91.1% outlet adalah format Store standar. Leisure (4.0%) dan Fore Go (2.9%) adalah eksperimen format — jika berhasil, bisa jadi template ekspansi berikutnya. Grab & Go (2.0%) paling efisien dari segi biaya sewa tapi volume terbatas.
Revenue Proxy vs Store Concept — 350 Outlets
Store format mendominasi di semua range revenue. Leisure outlets cenderung di revenue range atas (lokasi premium = traffic tinggi). Fore Go dan Grab & Go cluster di range bawah — volume lebih kecil tapi operational cost juga lebih rendah.
Geographic Distribution
Distribusi 350 outlet Fore Coffee di seluruh Indonesia — mayoritas terkonsentrasi di Jabodetabek, sesuai dengan strategi ekspansi dari pusat ke luar.
~150
Jabodetabek
42.9% dari total outlet
~100
Jawa (non-Jabodek)
28.6% — Surabaya, Bandung, Semarang
~40
Sumatera
11.4% — Medan, Palembang, Pekanbaru
~60
Kalimantan + Others
17.1% — Bali, Sulawesi, Kalimantan
Konsentrasi di Jabodetabek (42.9%) menunjukkan Fore Coffee masih dalam fase "hub-and-spoke" — ekspansi dari pusat. Post-IPO target 140 outlet baru kemungkinan besar akan memperkuat presence di Jawa dan mulai penetrasi lebih dalam ke Sumatera dan Kalimantan.
Proximity Analysis (Haversine)
Dengan 350 outlet, beberapa lokasi sangat berdekatan — menimbulkan risiko cannibalization. Menggunakan Haversine formula, dihitung jarak antar semua pasangan outlet untuk mengidentifikasi cluster yang terlalu padat.
Jumlah Pasangan Outlet per Proximity Bucket
~45 pasangan outlet berada dalam radius 500m — ini zona cannibalization tinggi. Outlet-outlet ini kemungkinan besar saling "mencuri" customer. Perlu evaluasi per-pair: apakah keduanya profitable, atau salah satu harus di-relocate/close?
| Radius |
Pasangan Outlet |
Risk Level |
Recommended Action |
| 0 – 500m | ~45 | Tinggi | Evaluasi per-pair, consider relocation |
| 500m – 1km | ~120 | Sedang | Monitor performance, differentiate offering |
| 1 – 2km | ~280 | Rendah | Acceptable distance, normal competition |
| 2 – 5km | ~850 | Minimal | No cannibalization concern |
| 5km+ | ~59,780 | None | Different catchment area entirely |
Operating Hours Pattern
Mayoritas outlet Fore Coffee beroperasi dengan jam standar, tapi ada variasi berdasarkan lokasi dan tipe outlet.
Distribusi Jam Operasional Outlet
73% outlet beroperasi 07:00–22:00 (standar). Mall-based outlets (18%) mengikuti jam mall 10:00–22:00 — buka lebih siang, kehilangan morning rush. 24-hour outlets (3%) ada di area high-traffic seperti bandara dan stasiun. Extended hours (6%) beroperasi hingga 23:00–00:00.
Store Age Analysis
Fore Coffee didirikan 2018 — pertumbuhan outlet menunjukkan fase ekspansi yang semakin agresif, terutama setelah IPO April 2025.
Outlet Dibuka per Tahun (2018–2025)
60+ outlet dibuka di H2 2025 (post-IPO) — akselerasi signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. IPO fund (Rp 353B) langsung dieksekusi untuk ekspansi. Pertanyaan kritis: apakah outlet baru ini sudah breakeven, atau masih dalam fase ramp-up?
📈 Post-IPO Acceleration
Dari 2018–2024, rata-rata ~40 outlet baru per tahun. Di 2025 saja, 80+ outlet dibuka — doubling the pace. Ini sesuai dengan target IPO prospektus: 140 outlet baru + 30 Fore Donut. Execution speed menunjukkan pipeline lokasi sudah disiapkan sebelum IPO.
⚠️ Data outlet (350 lokasi, koordinat, tipe) berasal dari scraping API Fore Coffee yang real. Data transaksi bersifat sintetis. Proximity analysis menggunakan Haversine distance — jarak aktual jalan bisa berbeda. Angka distribusi regional dan operating hours adalah estimasi berdasarkan data yang tersedia.